Ketersediaan gas LPG 3 kilogram di Kelurahan Bugis, Kabupaten Sumbawa, semakin terbatas dan mulai dirasakan berat oleh masyarakat. Kondisi ini terjadi di saat kebutuhan rumah tangga meningkat menjelang bulan Ramadan, sementara pasokan yang diterima pangkalan setempat jauh dari mencukupi.
Saat ini, pangkalan hanya memperoleh alokasi sekitar 150 tabung untuk melayani lebih dari 1.000 warga. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan tersebut memicu antrean panjang serta menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Pemilik pangkalan LPG setempat, H. Badrussalam, menegaskan bahwa penjualan tetap dilakukan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp20 ribu per tabung. Ia memastikan tidak ada praktik penjualan di atas harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Meski demikian, ia mengakui adanya kesulitan dalam mengidentifikasi latar belakang pembeli di lapangan. Hal ini disebabkan oleh kondisi antrean yang kerap membludak dan tidak teratur. Pihaknya tidak dapat memastikan secara pasti apakah pembeli berasal dari kalangan yang berhak menerima subsidi atau tidak.
Sebagai langkah pengendalian, pangkalan telah memberikan imbauan agar kelompok masyarakat mampu, termasuk aparatur negara, tidak membeli LPG subsidi. Namun, penerapan di lapangan tidak selalu berjalan efektif.
Dalam upaya memperbaiki distribusi, pangkalan sebelumnya sempat menggunakan sistem kupon. Kini, mereka menerapkan pendataan berbasis KTP dengan prioritas warga berdomisili di Kelurahan Bugis. Meski begitu, sistem ini belum sepenuhnya mampu menyaring kategori ekonomi pembeli.
Menurut Badrussalam, mayoritas pengguna LPG 3 kilogram di wilayah tersebut berasal dari pelaku usaha mikro serta rumah tangga kecil. Untuk menjaga transparansi, setiap proses distribusi didokumentasikan sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban.
Ia menilai, keterbatasan kuota menjadi persoalan utama yang menyebabkan kelangkaan terus terjadi. Dengan jumlah pasokan yang minim dibandingkan kebutuhan warga, pihak pangkalan juga mengalami kesulitan dalam melayani seluruh permintaan.
Memasuki bulan Ramadan, situasi ini dikhawatirkan akan semakin membebani masyarakat, khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah. Tanpa adanya penambahan kuota atau pengawasan distribusi yang lebih ketat, kelangkaan LPG 3 kilogram berpotensi terus berulang dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga.